GELADI LAPANG SATUAN KOMANDO KEWILAYAHAN DALAM RANGKA PENANGGULANGAN BENCANA

Latihan merupakan fungsi organik pembinaan TNI-AD Berdasarkan doktrin KEP (Kartika Eka Paksi). Latihan dilaksanakan dalam rangka pembinaan dan peningkatan keterampilan prajurit, untuk mencapai tujuan dan sasaran latihan, yaitu kemampuan standar prajurit dan satuan, agar satuan memiliki tingkat kecakapan sebagaimana yang telah ditentukan, serta kesiapan operasional yang handal guna menghadapi setiap pelaksanaan tugas-tugas satuan. Latihan dilaksanakan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, dimulai dari latihan tingkat perorangan hingga tingkat satuan. Adapun metoda yang digunakan dalam pelaksanaan latihan adalah, Metode Teori/Ceramah, Praktek/peragaan, Diskusi/aplikasi, Latihan teknis dan taktis, Geladi posko serta Geladi lapang. Latihan dengan menggunakan metode geladi posko I bagi satuan Komando kewilayahan, saat ini dilaksanakan oleh Satuan Kodim maupun Korem diseluruh wilayah teritorial penugasan.

Beberapa waktu lalu, Kalimantan timur pernah mengalami suatu kejadian bencana bila bisa dikatakan demikian. Runtuhnya jembatan Kutai kartanegara Kaltim pada tanggal 26 Nopember 2011  lalu, menyebabkan jatuhnya korban sejumlah 76 orang dengan rincian 24 orang meninggal dunia, 12 orang hilang dan 40 orang selamat (sumber Kabasarnas Marsdya Daryatmo, Tribun Kaltim 10/7/2012). Peristiwa runtuhnya jembatan Kukar terjadi pada hari sabtu pukul 16.20 wita, meninggalkan permasalahan penting yang tak tertangani oleh aparat terkait. Masa itu SAR daerah tidak dapat langsung melakukan upaya penyelamatan berdasarkan prosedur tetap yang dimilikinya. SAR daerah baru tiba di lokasi kejadian, sore hari menjelang gelap sehingga harus menunggu sampai hari terang, itu berarti harus menunggu selama 14 jam, dan baru bisa dilakukan penyelamatan pada pukul 07.00 wita pagi, keesokan harinya. Dalam rentang waktu tersebut, bisa dipastikan tidak akan ada lagi yang selamat, kecuali korban menyelamatkan diri sendiri bila beruntung.

Adanya kejadian tersebut memperingatkan kita akan pentingnya koordinasi dalam pengambilan keputusan serta adanya pelatihan kemampuan penyelamatan, yang seluruhnya dapat kita peroleh dengan cara melakukan latihan-latihan secara terintegrasi bersama aparat terkait lainnya. Pentingnya penanggulangan bencana untuk dilakukan secara efektif dan efisisen yang berdaya guna serta berhasil guna. Idealnya suatu daerah harus mampu menangani kejadian bencana skala daerah, serta mengatasi jumlah korban yang sekecil kecilnya. Harapannya kedepan tidak akan ada lagi hambatan atau kendala, baik dari sisi  komunikasi maupun dalam upaya penyelamatan malam hari yang terintegrasi antara aparat terkait satu dan yang lainnya sesuai amanat undang undang.

Geladi posko I merupakan suatu program latihan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh setiap satuan komando kewilayahan. Materi latihan geladi posko I, biasanya disesuaikan dengan kebutuhan pelaksanaan tugas satuan dalam operasi militer perang (OMP) maupun operasi militer selain perang (OMSP). Pelaksanaan tugas satkowil dalam OMSP antara lain ialah, penanganan penanggulangan bencana didaerah maupun  pemberdayaan wilayah pertahanan di darat guna mewujudkan pertahanan wilayah darat. Pertanyaan yang timbul saat ini adalah, pernahkah satkowil meningkatkan latihannya, mulai dari geladi Posko I, II sampai Geladi lapangan. Terutama dalam rangka menghadapi bencana. atau pernahkah satkowil berlatih secara terintegrasi bersama BNPB/BPBD, Basarnas/SAR daerah?, dan apakah satgas satkowil sudah siap atau sudah teruji untuk menghadapi bencana, baik untuk menghadapi ancaman terhadap rawan bencana maupun dalam rangka penyiapan wilayah pertahanan di darat?.

Berangkat dari persoalan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut, Pertama, banyaknya bencana serta permasalahan penyelenggaraan binter dalam rangka pembentukan pertahanan wilayah didarat dan juga kurangnya pemahaman terhadap tugas penanggulangan bencana saat ini menjadikan kendala bagi prajurit dan masyarakat dalam segi kuantitas dan kualitas. Kedua, Latihan geladi posko I yang diselenggarakan satkowil kiranya tidak dapat menjangkau prajurit dan aparat terkait lainnya dari segi latihan, sehingga kemampuan aparat penanggulangan bencana saat ini dirasa kurang optimal. Adanya kondisi tersebut dapat menimbulkan sikap skeptis dan ragu bagi prajurit dilapangan. Ketiga, kurang efektifnya komunikasi antara satgas satkowil dengan aparat penanggulangan bencana BNPB/BPBD maupun Basarnas/ SAR daerah, sehingga satgas satkowil serta instrument pendukungnya belum dapat dioperasionalkan secara maksimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut dan sebelum kita masuk kedalam esensi dalam pembahasan geladi lapang bagi satkowil, ada baiknya kita lihat pengertian Geladi berikut ini. Geladi menurut buku tuntunan praktis Geladi posko I yang dikeluarkan oleh Sterad tahun 2009 adalah, suatu bentuk latihan untuk memberikan pengetahuan dan kemampuan dalam melakukan sesuatu kegiatan yang telah dipelajari atau dilakukan sebelumnya. Sedangkan Posko adalah suatu tempat dimana Komandan dibantu oleh Perwira Staf serta Unsur pelayan Markas, memimpin, memberikan komando dan pengendalian operasi. Jadi Geladi Posko I adalah suatu metoda latihan taktis tanpa pasukan, sedangkan pelaku diberikan serangkaian keadaan dan kejadian yang sambung menyambung. Setiap keadaan dan kejadian yang diberikan tersebut, mengandung persoalan yang harus dipecahkan dan meminta keputusan, rencana, perintah dan tindakan dari pelaku yang berperan sebagai Komandan dan Perwira Staf dari Markas yang dilatih.

Sedangkan Geladi lapangan, merupakan suatu metode latihan Taktis dengan pasukan, yang dilakukan dimedan sebenarnya, dalam situasi tempur yang disimulasikan, serta menggambarkan realisme untuk menghadapi situasi operasi di medan yang mendekati sebenarnya.  Dengan tujuan untuk menguji kemampuan/efektivitas satuan dalam melaksanakan kodal, taktik dan teknik dalam rangka menghadapi situasi operasi dimedan sebenarnya. Geladi lapangan merupakan metode latihan pada puncak dari siklus latihan Satuan dan merupakan penyelenggaraan Program Uji Siap tempur Satuan.
Berdasarkan doktrin KEP (Kartika Eka Paksi), Pembinaan Teritorial (Binter) merupakan Fungsi Utama TNI-AD. Eksistensi satkowil diwilayah pada hakekatnya merupakan Gelar satuan TNI-AD dalam rangka pelaksanaan Binter maupun tugas lainnya sesuai UU No 34/2004 yaitu operasi militer selain perang (OMSP), dimana tugas TNI-AD antara lain, selain membantu pemerintah daerah dalam rangka penanggulangan bencana, juga melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan yang seluruhnya dilaksanakan dengan metode Binter. Adanya tugas penanggulangan bencana tersebut, menuntut satkowil untuk profesional dan mampu mengatasi setiap permasalahan yang diemban dipundak mereka. Latihan dibutuhkan guna menghadapi dinamika yang terjadi dilapangan, serta untuk mengetahui “Apa ?” dan “Berbuat Apa ?”, dengan kata lain, setiap prajurit satkowil harus memahami betul akan tugas dan tanggungjawabnya dan bukan hanya itu saja, prajurit satkowil harus juga dapat melaksanakan tugas secara operasional dilapangan, mulai pada tahap Mitigasi, Pra bencana, Tanggap darurat sampai tahap Pasca bencana meliputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi. Untuk dapat melaksanakan tugas sampai mencapai tingkat operasional lapangan maka prajurit harus sudah melalui tahapan latihan sampai tingkat Geladi lapang.  

Bencana menurut Undang-Undang No 24/2007 tentang penanggulangan bencana dijelaskan bahwa, bencana adalah suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan serta penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Ada tiga kriteria rawan bencana yakni, bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa Gempa Bumi, Tsunami, Gunung meletus, Banjir, Kekeringan, Angin topan, dan Tanah longsor. Bencana Nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa Nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit, sedangkan Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia, meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.

Sebagai kerangka hukum dalam penanganan bencana, maka telah dikeluarkan UU No 24/2007 tentang penanggulangan bencana. Peraturan Mentri Dalam Negri No 46/2008 tanggal 22/10/2010, tentang Pedoman Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana, dimana dalam buku pedoman menyatakan bahwa dengan berlakunya Permendagri tersebut, maka Satlak maupun Satkorlak maupun Satuan pelaksana yang telah terbentuk sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi. Perpres RI No 8/2008 tentang BNPB serta Peraturan Ka BNPB No 3/2008 tentang pedoman pembentukan BPBD, dimana TNI sebagai anggota unsur Pengarah yang bertugas memberikan saran masukan kepada Kepala BNPB, maupun sebagai unsur pelaksana yang dilakukan berdasarkan permintaan dari Kepala Daerah kepada Mabes TNI, secara hirarkhi. Kerjasama antara BNPB dengan Kementerian Pertahanan RI dan Markas Besar TNI Kamis, 6 Januari 2011, dengan MoU/01/M/I/2011 dan Kerma/1/I/2011 tentang Penyelenggaraan penanggulangan bencana yang mencakup kegiatan operasional dan kegiatan administrasi selama 5 (Lima) Tahun. Pelibatan TNI dalam penanggulangan bencana berdasarkan Pedoman prosedur permintaan bantuan dalam rangka penanggulangan bencana alam didarat, Bujuklak Kasad No Perkasad/96/XI/2009 tanggal 30/11/2009 dan Pedoman pembantuan TNI-AD kepada Pemerintah Daerah, Bujuklak Kasad No Perkasad/91/XI/2009 tanggal 30 Nopember 2009. Dalam pedoman tersebut menjelaskan tentang peran TNI sebagai unsur pelaksana, dalam rangka penanggulangan bencana. TNI/Satkowil di daerah membentuk Satuan Tugas.

Satgas ini perlu dilatih dan dibekali dengan kemampuan guna menghadapi ancaman bencana dan tanggap darurat. Kurangnya pengetahuan serta pemahaman masing masing personel Satgas, akan menjadi kendala dalam upaya penanggulangan bencana sehingga Satgas perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan berkaitan dengan penangulangan bencana. Geladi lapang merupakan suatu kegiatan latihan berupa aplikasi dari pengetahuan dan kemampuan yang telah dilatihkan kepada prajurit. Dalam buku sistim pembinaan latihan satuan kita mengenal program latihan standarisasi (Proglatsi), dimana latihan diawali dari latihan teknis hingga latihan taktis, dari tingkat perorangan sampai tingkat satuan, kemudian diujikan dalam uji trampil perorangan (UTP) dan uji trampil jabatan (UTJ), sampai uji siap tempur atau uji aplikasi tingkat satuan, UST Ru, UST Ton, UST Kompi, selanjutnya latihan gladi posko I dan gladi posko II hingga siap latihan skala besar yang terintegrasi, yaitu geladi lapang dengan melibatkan pasukan. Sistim latihan standarsasi ini dapat juga diterapkan kepada satuan komando kewilayahan, mulai tingkat babinsa, koramil sampai tingkat Kodim.

Latihan Geladi lapang Satkowil teritorial sejatinya dilaksanakan dengan melibatkan pasukan, dalam rangka uji kemampuan dan aplikasi lapangan serta untuk membekali maupun meningkatkan kemampuan para Komandan dan Staf dalam merencanakan suatu operasi, yang mencakup hal-hal keterpaduan, kerjasama dan koordinasi dalam pengambilan keputusan, taktik dan teknik olah yudha, pengintegrasian semua kemampuan satuan yang dimiliki, prosedur dan tata cara kerja yang berlaku dalam suatu Posko serta Kodal operasi. Geladi lapang Satkowil dalam rangka penangulangan bencana juga merupakan aplikasi dilapangan, yang melibatkan seluruh prajurit satkowil maupun Satgas, guna menghadapi ancaman bencana serta dinamika yang berlaku, dimana didalamnya dikembangan situasi melalui persoalan persoalan yang mungkin terjadi, sebagai perkiraan realitas lapangan dengan muaranya adalah penetapan prosedur dalam suatu produk prosedur tetap atau “PROTAP”.

Adanya latihan geladi lapang, akan dapat memberikan visualisasi pelaksanaan tugas kedepan serta pengalaman tentang penanggulangan bencana kepada masing masing prajurit, Satgas maupun Satbamin Korem/ Balak aju, sehingga tiap tiap individu diharapkan dapat mengembangkan ide atau gagasan guna mencapai kemampuan pada tingkat menguasai dan mahir. Selain itu, geladi lapang juga dapat melihat akan kebutuhan personel dan materiil yang akan digunakan pada saat tanggap darurat. Arah penanganannya dilaksanakan dengan memadukan upaya-upaya penanganan dan pengurangan resiko bencana secara komprehensif dan sistimatis agar mampu mensinergiskan kapasitas penanganan bencana dengan instansi BNPB/BPBD maupun Badan SAR serta instansi terkait lainnya di tingkat pusat dan daerah.

Substansi penanganan bencana pada prinsipnya berada pada kesiapan tugas satuan, dimana satuan tugas harus dapat memprediksikan atau perkiraan kemungkinan ancaman serta merencanakan upaya penangulangannya, melatihkan dan melakukan kerjasama, yang dilaksanakan pada tahap Mitigasi atau Pra bencana. Sedangkan dalam tahap Tanggap darurat, Satgas perlu merencanakan serta mensimulasikan  pertolongan korban bencana ke daerah aman atau shelter tempat pengungsian maupun barak barak penampungan. Menyediakan logistik, melaksanakan pemeliharaan kesehatan dan pengobatan, serta mengembalikan kondisi psikologis masyarakat. Menentukan daerah evakuasi, jalur evakuasi, pengamanan evakuasi, pengamanan personel serta pengamanan lokasi kejadian bencana, guna menghindari adanya upaya pemanfaatan dalam situasi bencana maupun saat darurat, pencurian, perampokan maupun tindak kriminal lainnya, yang seluruhnya dilakukan dengan cara berkoordinasi dengan aparat terkait. Pada Tahap Pasca bencana melaksanakan pemulihan kondisi psikologi, rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kesiapan penanganan pengungsi akibat perang maupun bencana alam dapat diambil contoh, Badan PBB bidang penanganan dan koordinasi bencana UNDAC (United Nation Disaster Assessment and Coordination), dalam hal ini, diutamakan utk mengatasi korban bencana yang terjadi secara mendadak, kapasitas siaga tersedia di seluruh dunia dan dapat ditempatkan dalam waktu penyebaran (12 - 24 jam), koordinasi ditempat dalam tahap pertama bencana, Koordinasi / Penilaian / Pengolahan informasi dan dapat dikerahkan untuk jangka waktu  3 - 4 minggu untuk mendukung pemerintah lokal dan UN Resident Coordinator .

UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) memiliki pengalaman tugas selama 60 Tahun di 123 Negara. Sepanjang masa penugasan, UNHCR telah mendirikan perjanjian jangka panjang dengan perusahaan ekspedisi dan perusahaan logistik. Mengembangkan jaringan Global pemasok logistik, lembaga spesialis dan mitra. Memiliki Kapasitas untuk merespon  keadaan darurat sampai dengan 500.000 orang dan dapat memobilisasi lebih dari 300 personil terlatih dalam waktu 72 jam untuk tiba di lokasi. Rekrutmen para ahli ini berasal dari daftar perusahaan Tim Tanggap Darurat ERT (Emergency Response Team). Memiliki mekanisme untuk segera mobilisasi sumber daya keuangan dalam respon terhadap keadaan darurat. International SAR  (Search And Rescue) memiliki perangkat pendukung dalam rangka penanganan bencana. Memiliki kecakapan penanganan dan SAR dalam  waktu 3 x 24 jam sampai di lokasi setelah mendapat ijin dari yang berwenang. Mengkoordinasikan segenap perangkat  yang ada  guna kecepatan penanganan dalam rangka mengurangi korban jiwa, mengupayakan serta menyiapkan bantuan SAR dalam waktu singkat sebagai pertolongan pertama.
 
Pendek kata, latihan dengan metode geladi lapang dalam rangka penanggulangan bencana merupakan suatu hal yang penting dan urgent untuk dilaksanakan dimasa mendatang. Penanggulangan bencana dalam tahap mitigasi atau pra bencana dapat dilaksanakan melalui Latihan dengan metode Geladi lapangan, dimana materinya perlu disesuaikan dengan UU No 24/2007 dan Permendagri No 46/2008 tanggal 22/10/2008, PP No 21/2008, PP No 8/2008,  maka satkorlak yang pernah dibentuk sebelumnya menjadi tidak berlaku lagi. Pelibatan TNI-AD/Satkowil dalam penanggulangan bencana, sesuai Bujuklak Kasad No Perkasad/91/XI/2009 dan Bujuklak Kasad No Perkasad/96/XI/2009, Maka berlaku struktur organisasi Satgas yang pelibatannya berdasarkan permintaan kepada Mabes TNI.

Dalam rangka pelibatan Satgas dalam penanggulangan bencana maka dibutuhkan latihan yang bersifat menyeluruh dan menjangkau sampai ke tingkat individu pelaksana. Arah penanganannya dilaksanakan dengan memadukan upaya-upaya penanganan dan pengurangan resiko bencana secara komprehensif dan sistimatis agar mampu mensinergiskan kapasitas penanganan dengan instansi terkait di tingkat pusat dan daerah. Dengan melihat pengertian tersebut, maka jelaslah Geladi lapang dalam rangka penanggulangan bencana, selain berperan untuk melatihkan dalam aplikasi lapangan pada tingkat latihan sebelumnya, juga berperan melatihkan serta memberi pengetahuan maupun pengembangan keterampilan individu Satkowil maupun Satgas. Geladi lapang satuan komando kewilayahan atau latihan geladi lapang korem, bermanfaat dalam rangka penanggulangan bencana, dan juga bermanfaat untuk melatihkan   satbanmin/ balak aju komando kewilayahan, mengetahui akan sistimatika penangulangan, kebutuhan personel dan materiil, Alat komunikasi, transportasi, lokasi evakuasi, route serta protap satkowil guna peningkatan kemampuan Operasional satkowil tingkat Korem.

Saran.

- Perlu adanya latihan geladi lapang penanggulangan bencana.
- Melaksanakan kerjasama dengan Instansi terkait (BNPB dan BASARNAS).
- Satkowil perlu memiliki Protap satuan dalam rangka penanggulangan bencana, yang telah diujikan secara teoritis maupun empiris melalui geladi lapangan Satkowil dalam rangka penanggulangan bencana.

PENULIS

Nama     : Partaji Vikson Siagian
Pangkat : Letnan Kolonel Inf
Nrp        : 1910032011068.
Jabatan : Pabandya Puanter Sterdam VI/Mlw

RIWAYAT JABATAN

1.   Danton Bant Ki-C Yon 411/6 Kostrad             1992
2.   Danton 3/Ki-C Conga XII-C                            1992
3.   Danton 3/Ki-C Yon 411/6 Kostrad                  1993
4.   Danton 2/Ki-A Yon 411/6 Kostrad                  1994
5. Danton Mo 81/Ki  Bant Y L 305/17 Kostrad    1995                                                                                             
6.   Kasi 3 Yonif Linud 305/17 Kostrad                 1997
7.   Kasi Ops Yonif Linud 305/17 Kostrad             1999
8.   Danki Bant Yonif Linud 305/17 Kostrad           2000
9.   Kasi Rahlat Sbaglat Rindam VI/Tanjungpura    2001
10. Kasdim 1004/KTB                                           2005
11. Kasdim 0904/TNG                                          2007
12. Kasi Siaplahta Puskodal Dam VI/Tanjungpura  2008
13. Kasiops Puskodal Dam VI/Mulawarman           2010
14. Pabandya Puanter Sterdam VI/Mulawarman    2011


RIWAYAT PENUGASAN

1.   CONGA XII/ C CAMBODIA                            1993
2.   JOCIT Junior Officer Combat Instructure
      Course Australia                                           1994
3.   Ops Seroja                                                   1995
4.   Airborne Australia                                         1996
5.   Austyer Course Australia                               1996
6.   Hydra Course Australia                                  1996
7.   Ausfamil course                                            1996
8.   US Airborne Course                                       1998
9.   US Jump Master Course                                 1998
10. Ops pamtas Irian Jaya                                    2000
11. Milobs DRC Congo                                        2002
12. Ausfamil Course  Australia                              2011
13. CIMIC Civil Military Interaction Workshop         2011
                                            
(Oleh : Letkol Partaji Vikson Siagian/ Pabandya Puanter Sterdam VI/Mlw)